BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 2015
diperkirakan terdapat 36,7 juta (34 juta - 39,8 juta) orang hidup dengan HIV,
meningkat sebanyak 3,4 juta dibandingkan tahun 2010. Sebanyak 2,1 juta di
antaranya merupakan kasus baru HIV. Namun, dalam laporan yang sama terjadi
penurunan kematian, WHO mencatat sejak AIDS ditemukan hingga akhir 2015
terdapat 34 juta orang meninggal dan di tahun 2015 tercatat sebesar 1,1 juta
orang meninggal terkait dengan AIDS, menurun dibandingkan tahun 2010 yang sebesar
1,5 juta kematian.
AIDS (Acquired
Immune Deficiency Syndrome) adalah salah satu masalah kesehatan yang sedang
dihadapi masyarakat dunia akhir-akhir ini. Saat ini tidak ada negara yang
terbebas dari HIV (Human Imunnodeficiency Virus) maupun AIDS. HIV/AIDS menyebabkan
krisis multidimensi yaitu krisis kesehatan, pembangunan negara, ekonomi,
pendidikan maupun kemanusiaan.
Indonesia
merupakan salah satu negara yang mengalami peningkatan kasus tertinggi. Berdasarkan
data yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan sejak kasus AIDS pertama kali
ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 hingga September 2014 sebanyak 150.296
orang (penderita HIV), sedangkan untuk penderita AIDS sebanyak 55.799 orang.
Menurut KPA
(Komisi Penanggulangan AIDS) (2007b), dari seluruh jumlah kasus di Indonesia
tersebut, sekitar 8 ribu atau 57,1% kasus HIV/AIDS terjadi pada remaja antara
15–29 tahun (37,8% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 62,2%
terinfeksi melalui penggunaan narkoba jarum suntik). Hal ini menunjukkan bahwa
remaja memerlukan edukasi dan penyuluhan yang benar agar tidak masuk kedalam
sub-populasi berperilaku risiko tinggi.
Masa remaja adalah
masa yang penuh dengan gejolak, masa yang penuh dengan berbagai pengenalan dan
petualangan akan hal-hal yang baru termasuk pengalaman berinteraksi dengan
lawan jenis sebagai bekal manusia untuk mengisi kehidupan mereka kelak. Pada
masa remaja, rasa ingin tahu mengenai seksualitas sangat penting terutama dalam
pembentukan hubungan dengan lawan jenisnya. Besarnya keingintahuan remaja
mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas menyebabkan remaja selalu
berusaha mencari tahu lebih banyak informasi mengenai seksualitas.
Rentannya remaja
terhadap penyimpangan seksual dan AIDS bersumber dari perubahan fisiologis
serta psikologis, berkaitan dengan perkembangan organ reproduksi mereka. Pada
tahap ini, remaja mulai merenggang dari orang tuanya kemudian membentuk
kelompok sahabat karib. Dalam tendensi kearah penarikan diri, sangat mungkin
terjadi tindakan irasional (Rachmawati, 2000).
Dari hasil survei
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (2008), sebanyak 63%
remaja di Indonesia baik SMP maupun SMA telah melakukan hubungan seksual diluar
nikah.
Menurut Badan
Narkotika Nasional (BNN) (2009), banyak remaja yang mati muda karena overdosis
dan tersiksa akibat kecanduan narkoba. Bahkan banyak dari mereka yang sudah
terinfeksi penyakit mematikan yaitu HIV/AIDS akibat penggunaan narkoba dengan
jarum suntik.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Apa saja faktor yang mempengaruhi
perempuan lebih rentan terjangkit HIV/ AIDS?
1.2.2
Bagaimana penularan HIV/ AIDS?
1.2.3
Bagaimana pencegahan HIV/ AIDS?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1
Untuk mengetahui faktor bahwa perempuan
lebih rentan terjangkit HIV/ AIDS.
1.3.2
Untuk mengetahui cara penularan HIV/AIDS.
1.3.3
Untuk mengetahui cara pencegahan HIV/
AIDS.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat
yang ingin kami capai adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca,
utamanya bagi sesama pelajar dan generasi muda tentang AIDS, sehingga dengan
demikian kita semua berusaha untuk menghindarkan diri dari segala sesuatu yang
bisa saja menyebabkan penyakit AIDS. Meskipun informasi yang kami berikan
melalui Makalah ini hanya sebagian kecil dan mungkin masih mempunyai
kekurangan, tetapi setidaknya isi dari Makalah ini dapat dijadikan sebagai
petunjuk untuk mengetahui tentangh AIDS itu sendiri.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian HIV/ AIDS
HIV atau Human
Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam
tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang
yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan
pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain
bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang
lain.
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome
adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh.
AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada
seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC,
kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan
kanker. Stadium AIDS membutuhkan pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk
menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh sehingga bisa sehat
kembali.(aidsindonesia.or.id)
2.2 Gambaran HIV/ AIDS di Indonesia
Pada tahun 2015,
jumlah kasus HIV seluruh Indonesia berjumlah 36,7 juta dengan perkiraan data 34
juta – 39,8 juta orang. Dari jumlah tersebut terdapat 34,9 juta orang dewasa
dan 1,8 juta anak-anak <15 tahun. Sedangkan pada tahun 2015 tersebut
terdapat temuan kasus baru sebanyak dewasa 1,9 juta orang dan anak-anak 200
ribu, sehingga total temuan kasus baru pada tahun 2015 adalah 2,1 juta orang.
Untuk kematian AIDS tahun 2015 berjumlah 1,1 juta jiwa dengan rincian, dewasa
1,1 juta dan anak-anak 110 ribu.
Tabel 2.1 Kasus
HIV dan Kematian AIDS Tahun 2015
|
Jumlah kasus HIV tahun 2015
|
Total
|
36,7
juta (34,0 juta - 39,8 juta)
|
|
Dewasa
|
34,9 juta (32,4 juta - 37,9 juta)
|
|
|
Anak-anak
(<15 tahun)
|
1,8 juta ( 1,5 juta -
2,0 juta)
|
|
|
Jumlah kasus baru HIV tahun 2015
|
Total
|
2,1
juta (1,8 juta – 2,4 juta)
|
|
Dewasa
|
1,9 juta (1,7 juta - 2,2 juta)
|
|
|
Anak-anak
(<15 tahun)
|
200.000 (150.000 – 240.000)
|
|
|
Kematian AIDS tahun 2015
|
Total
|
1,1 juta (940.000 - 1,3juta)
|
|
Dewasa
|
1,0 juta (840.000 - 1,2 juta)
|
|
|
Anak-anak
(<15 tahun)
|
110.000 (84.000 – 130.000)
|
Berikut adalah
data persebaran penderita HIV/ AIDS berdasarkan temuan pada provinsi-provinsi
di Indonesia.
Gambar
2.1 Grafik Jumlah Kasus Infeksi HIV di Indonesia tahun 2015
Virus HIV sangat
mematikan bagi siapa saja yang terjangkit olehnya, karena virus ini menyerang
sistem kekebalan tubuh yang membuat imunitas seseorang menjadi sangat lemah.
Virus HIV ini hanya dapat ditulari dengan cara apabila telah terkontaminasi
dengan cairan tubuh (darah, air liur, cairan semen, ASI) seseorang yang telah
mengidap virus tersebut. Dengan kata lain, selain dengan hal tersebut virus HIV
tidak mungkin tertular.
Di Indonesia
sendiri, kasus infeksi virus HIV dapat dikatakan memiliki angka yang cukup
tinggi. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran individu akan kesehatan bagi
dirinya sendiri, lingkungan sosial yang selalu menuntut, serta peran pemerintah
yang kurang tegas dalam menghadapi kasus ini khususnya pada daerah provinsi di
Indonesia yang masih memiliki keterbatasan akses dalam masalah kesehatan.
2.3 Gambaran HIV/ AIDS di Pati
Sebanyak 90
penderita HIV/AIDS baru ditemukan di Kabupaten Pati sepanjang 2016.
Meningkatnya orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di tahun 2016 menambah jumlah ODHA di
Pati yang mencapai 1.019 orang dari 1996 hingga Oktober 2016. Dari jumlah itu,
105 orang di antaranya meninggal dunia. (Dinas Kesehatan Kabupaten Pati)
Jumlah temuan ODHA
baru di Pati cukup signifikan. Namun, jumlah itu ternyata masih rendah
dibandingkan sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Grobogan, Semarang dan
lain sebagainya. 90 persen ODHA yang ditemukan di Pati merupakan warga asli dan
10 persen merupakan warga pendatang yang tinggal di Pati, seperti Kudus,
Jepara, dan Rembang.
2.4 Faktor Penyebab dan Faktor Resiko
HIV/ AIDS
2.4.1 Faktor Penyebab
Normalnya sel
darah putih dan antibodi menyerang dan menghancurkan organism easing yang masuk
ke dalam tubuh. Respon ini diatur oleh sel darah putih bernama limposit CD4.
Limposit ini juga merupakan target utama HIV. Sekali masuk ke dalam tubuh,
virus memasukkan material genetiknya ke dalam limposit dan melipatgandakan
diri.
Ketika salinan
virus baru keluar dari sel induk dan masuk ke dalam aliran darah, virus akan
menyerang sel lain. Sebagai efeknya sel CD4 akan mati. Siklus ini terus
berulang. Pada akhirnya menyebabkan kerusakan sistem imun yang berarti tubuh
tidak akan mempu melawan infeksi bakteri dan virus lain.
2.4.2
Faktor
Resiko
Faktor risiko terinfeksi AIDS antara
lain:
1.
Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan
seksual dengan lebih dari satu pasangan
2.
Tidak memakai pelindung ketika melakukan
hubungan seksual dengan orang dengan HIV positif
3.
Memiliki penyakit menular seksual lain
seperti syphilis, herpes, chlamydia, gonorrhea atau bacterial vaginosis.
4.
Bergantian dalam memakai jarum suntik
5.
Mendapatkan transfusi darah yang
terinfeksi virus HIV
6.
Memiliki sedikit salinan gen CCL3L1 yang
membantu melawan infeksi HIV
7.
Ibu yang memiliki HIV
2.5 Gejala HIV/ AIDS
Gejala HIV dan AIDS bervariasi
tergantung dari fase infeksinya.
2.5.1
Infeksi
Awal
Ketika infeksi HIV
pertama, anda mungkin tidak akan mengalami tanda atau gejala apapun. Tetapi
dalam beberapa minggu anda dapat mengalami:
1.
Demam
2.
Sakit kepala
3.
Radang tenggorokan
4.
Pembengkakan kelenjar limpa
5.
Ruam
2.5.2
Infeksi
Selanjutnya
Anda mungkin tidak
akan mengalami gejala apapun dalam waktu 8 sampai 9 tahun, atau bahkan lebih.
Tapi seiring dengan virus yang melipatgandakan diri dan merusak sistem imun,
anda mungkin akan mengalami infeksi ringan atau gejala kronis seperti:
1.
Pembengkakan node limpa – sering merupakan
tanda awal infeksi HIV
2.
Diare
3.
Hilang berat badan
4.
Demam
5.
Batuk atau napas yang pendek
2.5.3
Infeksi
Tahap Akhir
Dalam waktu
sekitar 10 tahun atau lebih setelah infeksi pertama, masalah yang lebih serius
dapat terjadi yang diistilahkan dengan AIDS dan dapat terjadi:
1.
Infeksi yang terjadi ketika sistem imun
lemah, seperti pneumocystis carinii pneumonia (PCP)
2.
Kadar CD4 lymphocyte 200 atau lebih rendah
– normalnya adalah antara 800 sampai 1.200
Seiring dengan perkembangan AIDS, sistem imun anda
telah mengalami kerusakan parah. Infeksi akan mudah terjadi. Tanda dan
gejalanya adalah:
1.
Berkeringat di malam hari
2.
Menggigil atau demam lebih dari 38 Celcius
untuk beberapa minggu
3.
Batuk kering dan napas pendek
4.
Diare kronis
5.
Noda putih pada lidah atau mulut
6.
Sakit kepala
7.
Pandangan kabur
8. Hilang
berat badan
Anda juga dapat mengalami tanda dan gejala pada tahap
lanjut infeksi virus HIV itu sendiri, seperti:
1. Rasa
lelah yang tidak hilang dan tidak terjelaskan
2. Berkeringat
pada malam hari
3. Menggigil
atau demam tinggi untuk beberapa minggu
4. Pembengkakan
node limpa lebih dari tiga bulan
5. Diare
kronis
6. Sakit
kepala yang tidak hilang
Jika anda terinfeksi virus HIV, anda juga lebih rentan
mengalami kanker, khususnya kanker servik, lymphoma dan Kaposi’s sarcoma.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3.1.1
Tempat
UPT Puskesmas Cluwak
3.1.2
Waktu
Penelitian
Tanggal : 3 – 4 April 2017
Waktu :
10.00 WIB – 14.00 WIB
3.2
Tehnik
Pengumpulan Data
3.2.1
Wawancara
Yaitu melakukan
melalui komunikasi langsung dengan responden untuk memperoleh informasi
tertentu.
Peneliti melakukan
wawancara kepada Dokter Umum dan Bidan Koordinator Konseling Kesehatan
Masyarakat.
3.2.2
Studi
Kepustakaan
Studi
kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun
informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang
diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan
penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan,
ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia, dan sumber-sumber tertulis
baik tercetak maupun elektronik lain.
Dalam
hal ini peneliti melakukan studi kepustakaan dengan menghimpun informasi yang
didapat di UPT Puskesmas Cluwak berupa leaflet, brosur, karangan ilmiah serta
ensklopedia, serta menghimpun informasi dari internet berkaitan dengan HIV/
AIDS.
3.3 Tehnik Pengolahan Data
3.3.1
Editing
Editing adalah
upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan.
Editing pada penelitian ini adalah mengarsip jawaban hasil wawancara yang telah
dilakukan dan memilih informasi yang diperoleh dari studi kepustakaan baik
melalui buku, leaflet, ensklopedia maupun internet serta mencocokkan dan
mengoreksi informasi.
3.3.2
Cording
Cording merupakan
kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas
beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting karena peneliti juga
memperoleh informasi berupa data angka terkait dengan jumlah penderita dengan
berbagai variabel.
3.3.3
Entri
Data
Data entri adalah
kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan kedalam database penelitian
sesuai dengan kategorinya sebelum dilakukan penyusunan laporan penelitian
secara sistematika, sehingga memudahkan peneliti untuk menyusun laporan.
3.3.4
Tabulasi
data
Yaitu kegiatan
memasukkan data ke dalam tabel-tabel dan mengatur angka-angka yang diperoleh,
sehingga dapat dihitung distribusi dan prosentasenya, serta dapat dianalisis dan
dibahas dalam bab pembahasan.
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Faktor Penyebab Perempuan Lebih
Rentan Terinfeksi HIV.
Perempuan lebih
rentan terinfeksi HIV dibanding pria walaupun menurut data pada tahun 2015
lebih banyak pria yang terinfeksi HIV. Berikut adalah faktor yang menyebabkan
perempuan lebih rentan dibanding pria.
4.1.1
Faktor
Biologis
1. Penipisan
dinding vagina yang dapat membuat wanita
rentan terserang virus.
2. Bentuk
organ kelamin wanita yang memiliki permukaan (mukosa) alat kelamin yang lebih
luas sehingga cairan sperma mudah terpapar ketika hubungan seksual
3. Virus
HIV lebih banyak hidup di cairan Sperma
4. Terdapat
banyak lipatan membuat permukaan menjadi luas dan dinding vagina sendiri
memiliki lapisan tipis yang mudah terluka, memudahkan air mani bertahan lebih
lama dalam rongga vagina bila terjadi infeksi, sehingga air mani yang
terinveksi dapat segera menulari perempuan tersebut.
4.1.2
Faktor
Ekonomi
1. Ketidak
setaraan ekonomi antara perempuan dan laki-laki sering kali memaksa perempuan
dalam peran patuh dan tergantung pada laki-laki. Kerentaranan perempuan secara
ekonomi seringkali terjadi dikarenakan perempuan tidak memiliki penghasilan
sendiri, sehingga tergantung pada orang lain,dalam hal ini suami atau pasangan
dalam menafkahi hidupnya.
2. Wanita
yang lemah dalam hal ekonomi tidak memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya
sendiri
3. Bargaining
power mengakibatkan keengganan wanita meminta informasi kepada suaminya tentang
status kesehatan pasangan seksualnya tersebut
dan tidak berani menegur bahkan bertanya terkait kehidupan atau
aktivitas suaminya diluar rumah.
4. Masalah
ekonomi menjadikan sebagian perempuan tidak bisa memilih dengan siapa dia akan
menikah: kapan,dengan siapa,dan bagaimana dia melakukan hubungan seksual.
5. Faktor
tergantung terhadap suami menyebabkan mereka tidak bisa menolak hubungan
seksual meskipun dia mengetahui suaminya memiliki hubngan dengan sejumlah
perempuan lain diluar pernikahannya.
6. Banyak
perempuan yang akhirnya harus menjadi PSK dimana ini sangat berpotensial terinfeksi HIV, seperti di negara miskin
atau kota-kota besar sebagian kaum perempuan tidak memiliki pilihan lain selain
menukarkan tubuhnya dengan uang untuk tetap bertahan hidup.
7. Kecenderungan
perempuan untuk tidak mengalami gejala pada waktu menderita sebuah penyakit
menular seksual. (ini menjadi pintu bagi
HIV, terutama jika telah menyebabkan
luka atau ulcer)
4.1.3
Faktor
Pendidikan
1. Kurangnya
pengetahuan wanita mengenai perubahan tubuh khususnya yang berhubungan dengan
organ reproduksinya
2. Minimnya
pengetahuan tersebut menyebabkan mereka tidak mampu merawat organ intinya dan
suami akan lebih mudah berpaling mencari kepuasan sex dengan wanita lain.
3. Tidak
adanya informasi yang mereka ketahui terhadap bahaya HIV/AIDS,inilah salah satu
faktor mereka enggan melakukan pemeriksaan meskipun ternyata telah melakukan
perbuatan yang beresiko.
4. Kurang
meratanya akses informasi,konsultasi maupun bimbingan yang didapatkan oleh
perempuan dan ibu-ibu rumah tangga.
5. Akses
pendidikan dan pelayanan kesehatan kurang sehingga perempuan tidak mengerti
akan masalah kesehatan reproduksinya termasuk persoalan seputar HIV/AIDS.
6. Sebagian
dari mereka yang telah terinfeksi selalu menjadikan kondom sebagai solusi untuk
mencegah penularan padahal menurut beberapa penelitian kegagalan kondom dalam
pencegahan HIV/AIDS mencapai 33%,itu dikarenakan ukuran pori-pori kondom
terkecil adalah 5 mikron sedangkan
ukuran virus HIV/AIDS yakni sebesar 0,1 mikron, maka pori-pori kondom sangat
mudah dilewati. Ini seperti kelereng yang melewati gorong-gorong.
4.1.4
Faktor
Sosial Budaya
1. Perempuan
dikonstruksikan untuk bersikap penurut, pasif, sabar dan setia sedangkan
laki-laki dominan, agresif dan mengambil inisiatif dalam hubungan seksual.
2. Adanya
persepsi dilingkungan masyarakat bahwa hal yang wajar jika seorang laki-laki
memiliki lebih dari satu pasangan.
3. Perempuan
menjadi rentan karena dituntut untuk menjalankan peran sebagai pengasuh,perawat
apabila suami,anak,atau keluarga edang sakit, sedangkan jika dirinya sendiri
sakit seringkali terabaikan.
4. Tradisi
yang merugikan perempuan seperti dijodohkan,dipaksa menikah,dipaksa jadi
PSK,tradisi turun ranjang di Sumatra Utara
5. Stigma
ganda,yaitu perempuan adalah makhluk kelas dua yang cenderung disalahkan atas
apa yang terjadi terhadap dirinya sendiri.
6. Pandangan
terhadap wanita yang terinfeksi HIV/AIDS adalah wanita tidak baik prilakunya
dan tidak bermoral,suatu keadaan yang memalukan dan koto, sehingga menyebabkan
sebagian wanita malu untuk mengakses informasi dan segan untuk memeriksakan
diri.
7. Perempuan
disosialisasikan sedemikian rupa untuk menomorduakan kebutuhan kesehatan
sesudah anggota keluarga.
4.2 Penularan HIV/ AIDS
Virus HIV ini
sangat mudah menular dan mematikan serta hidup dalam 4 jenis cairan tubuh
manusia yaitu darah, sperma, cairan vagina dan air susu ibu (ASI). Virus ini
tidak hidup di dalam cairan tubuh lainnya seperti air ludah (air liur), air
mata maupun keringat sehingga penularannya hanya lewat empat cairan tubuh
tersebut.
1. Penularan
HIV yang terjadi apabila terjadi kontak atau pertukaran cairan tubuh yaug
mengandung virus melalui sebagai berikut:
2. Hubungan
seksual (homoseksual dan heteroseksual).
3. Transfusi
darah dan transplantasi organ yang tercemar oloh HIV.
4. Jarum
suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tindik, tato) yang tercemar oleh
HIV.
5. Penularan
ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang dikandungnya. Penularan dapat
terjadi selama kehamilan atau persalinan atau selama menyusui.
4.3 Pencegahan HIV/ AIDS
Hubungan seksual
ini merupakan salah satu penyebab terjadinya
HIV/AIDS dimana seoarng telah terpapar oleh penyakit ini kemudian tertular
jika ia melakukan hubungan seka dengan pasangannya.
Adapun konsep
pencegahan penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual antara lain sebagai
berikut:
1. A
= Abstinence = Puasa,yaitu tidak melakukan hubungan seksual sebelum
menikah.hubungan seksual hanya dilakukan melalui pernikahan yang sah.
2. B
= Be faithfu l= Setia dengan pasangan,yaitu jikapun telah menikah,mengadakan
hubungan seksual dengan pasangannya saja.suami atau istri sendiri tidak
mengadakan hubungan seksual di luar nikah
3. C
= Using condom = Menggunakan kondom,yaitu bagi orang tertentu yang mempunyai
kebiasaan buruk berganti-ganti pasangan maka di anjurkan untuk menggunakan
kondom agar tidak menulari orang lain.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
HIV atau Human Immunodeficiency
Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit)
yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. AIDS atau Acquired Immune
Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena
turunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Faktor yang
mempengaruhi HIV/ AIDS antara lain: biologis, ekonomi, pendidikan, dan sosial
budaya.
Virus HIV ini
sangat mudah menular dan mematikan serta hidup dalam 4 jenis cairan tubuh
manusia yaitu darah, sperma, cairan vagina dan air susu ibu (ASI). Virus ini
tidak hidup di dalam cairan tubuh lainnya seperti air ludah (air liur), air
mata maupun keringat sehingga penularannya hanya lewat empat cairan tubuh
tersebut.
Sampai sekarang
belum ditemukan cara pengobatan HIV/AIDS yang tuntas.Saat ini yang ada hanyalah
menolong penderita untuk mempertahankan tingkat kesehatan tubuhnya. Namun telah
ditemukan sebuah obat yang dapat mengobati perkembangbiakan virus HIV/AIDS
sehingga jumlahnya tidak betambah di dalam tubuh,obat tersebut dinamakan obat
antiretroviral (ARV).
5.2 Saran
Agar kita semua
terhindar dari AIDS, maka kita harus berhati-hati memilih pasangan hidup,
jangan sampai kita menikah dengan pasangan yang terinfeksi HIV / AIDS, karena
selain dapat menular ke diri kita sendiri juga dapat menular ke janin dalam
kandungan kita. Kita juga harus berhati-hati dalam pemakaian jarum suntik
secara bergantian dan tranfusi darah dengan darah yang sudah terpapar HIV.
DAFTAR PUSTAKA
http://aidsindonesia.or.id/contents/37/78/Info-HIV-dan-AIDS#sthash.yomPKBQ4.
dpuf.
Diakses tanggal 07/04/2017
http://www.murianews.com/2016/12/06/102321/90-penderita-hivaids-baru-ditemukan-di-pati-selama-2016.html.
Diakses tanggal 06/04/2017
http://goo.gl/tl9h3H.
Diakses tanggal 07/04/2017
Joewana,
Satya. Pencegahan dan penanggulangan penyalagunaan Narkoba. 2016. Jakarta :
Balai pustaka
Muahammad
Zainal Abidin. 2010. “ HIV AIDS dan Cara Pencegahannya”. Dalam
http://www.masbied.com/2010/02/20makalah-aids/. 20 Februari 2010.
http://srisumarnimarsuki.blogspot.co.id/2012/05/hiv-aids.html.
Diakses tanggal 07/04/2017
tanggal
06/04/2017



