Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Juli 2017

HIV/ AIDS [Laporan Penelitian]


BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Pada tahun 2015 diperkirakan terdapat 36,7 juta (34 juta - 39,8 juta) orang hidup dengan HIV, meningkat sebanyak 3,4 juta dibandingkan tahun 2010. Sebanyak 2,1 juta di antaranya merupakan kasus baru HIV. Namun, dalam laporan yang sama terjadi penurunan kematian, WHO mencatat sejak AIDS ditemukan hingga akhir 2015 terdapat 34 juta orang meninggal dan di tahun 2015 tercatat sebesar 1,1 juta orang meninggal terkait dengan AIDS, menurun dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 1,5 juta kematian.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah salah satu masalah kesehatan yang sedang dihadapi masyarakat dunia akhir-akhir ini. Saat ini tidak ada negara yang terbebas dari HIV (Human Imunnodeficiency Virus) maupun AIDS. HIV/AIDS menyebabkan krisis multidimensi yaitu krisis kesehatan, pembangunan negara, ekonomi, pendidikan maupun kemanusiaan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami peningkatan kasus tertinggi. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan sejak kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 hingga September 2014 sebanyak 150.296 orang (penderita HIV), sedangkan untuk penderita AIDS sebanyak 55.799 orang.
Menurut KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) (2007b), dari seluruh jumlah kasus di Indonesia tersebut, sekitar 8 ribu atau 57,1% kasus HIV/AIDS terjadi pada remaja antara 15–29 tahun (37,8% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 62,2% terinfeksi melalui penggunaan narkoba jarum suntik). Hal ini menunjukkan bahwa remaja memerlukan edukasi dan penyuluhan yang benar agar tidak masuk kedalam sub-populasi berperilaku risiko tinggi.
Masa remaja adalah masa yang penuh dengan gejolak, masa yang penuh dengan berbagai pengenalan dan petualangan akan hal-hal yang baru termasuk pengalaman berinteraksi dengan lawan jenis sebagai bekal manusia untuk mengisi kehidupan mereka kelak. Pada masa remaja, rasa ingin tahu mengenai seksualitas sangat penting terutama dalam pembentukan hubungan dengan lawan jenisnya. Besarnya keingintahuan remaja mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas menyebabkan remaja selalu berusaha mencari tahu lebih banyak informasi mengenai seksualitas.
Rentannya remaja terhadap penyimpangan seksual dan AIDS bersumber dari perubahan fisiologis serta psikologis, berkaitan dengan perkembangan organ reproduksi mereka. Pada tahap ini, remaja mulai merenggang dari orang tuanya kemudian membentuk kelompok sahabat karib. Dalam tendensi kearah penarikan diri, sangat mungkin terjadi tindakan irasional (Rachmawati, 2000).
Dari hasil survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (2008), sebanyak 63% remaja di Indonesia baik SMP maupun SMA telah melakukan hubungan seksual diluar nikah.
Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) (2009), banyak remaja yang mati muda karena overdosis dan tersiksa akibat kecanduan narkoba. Bahkan banyak dari mereka yang sudah terinfeksi penyakit mematikan yaitu HIV/AIDS akibat penggunaan narkoba dengan jarum suntik.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa saja faktor yang mempengaruhi perempuan lebih rentan terjangkit HIV/ AIDS?
1.2.2        Bagaimana penularan HIV/ AIDS?
1.2.3        Bagaimana pencegahan HIV/ AIDS?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1         Untuk mengetahui faktor bahwa perempuan lebih rentan terjangkit HIV/ AIDS.
1.3.2         Untuk mengetahui cara penularan HIV/AIDS.
1.3.3         Untuk mengetahui cara pencegahan HIV/ AIDS.

1.4  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin kami capai adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca, utamanya bagi sesama pelajar dan generasi muda tentang AIDS, sehingga dengan demikian kita semua berusaha untuk menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa saja menyebabkan penyakit AIDS. Meskipun informasi yang kami berikan melalui Makalah ini hanya sebagian kecil dan mungkin masih mempunyai kekurangan, tetapi setidaknya isi dari Makalah ini dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk mengetahui tentangh AIDS itu sendiri.




BAB II

KAJIAN PUSTAKA



2.1  Pengertian HIV/ AIDS
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain.
 AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. Stadium AIDS membutuhkan pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh sehingga bisa sehat kembali.(aidsindonesia.or.id)

2.2  Gambaran HIV/ AIDS di Indonesia
Pada tahun 2015, jumlah kasus HIV seluruh Indonesia berjumlah 36,7 juta dengan perkiraan data 34 juta – 39,8 juta orang. Dari jumlah tersebut terdapat 34,9 juta orang dewasa dan 1,8 juta anak-anak <15 tahun. Sedangkan pada tahun 2015 tersebut terdapat temuan kasus baru sebanyak dewasa 1,9 juta orang dan anak-anak 200 ribu, sehingga total temuan kasus baru pada tahun 2015 adalah 2,1 juta orang. Untuk kematian AIDS tahun 2015 berjumlah 1,1 juta jiwa dengan rincian, dewasa 1,1 juta dan anak-anak 110 ribu.



Tabel 2.1 Kasus HIV dan Kematian AIDS Tahun 2015
Jumlah kasus HIV tahun 2015



Total
36,7 juta (34,0 juta - 39,8 juta)
Dewasa
34,9 juta (32,4 juta - 37,9 juta)
Anak-anak (<15 tahun)
1,8 juta (  1,5 juta -   2,0 juta)
Jumlah kasus baru HIV tahun 2015


Total
2,1 juta (1,8 juta – 2,4 juta)
Dewasa
1,9 juta (1,7 juta - 2,2 juta)
Anak-anak (<15 tahun)
200.000 (150.000 – 240.000)
Kematian AIDS tahun 2015


Total
1,1 juta (940.000 - 1,3juta)
Dewasa
1,0 juta (840.000 - 1,2 juta)
Anak-anak (<15 tahun)
110.000 (84.000 – 130.000)

Berikut adalah data persebaran penderita HIV/ AIDS berdasarkan temuan pada provinsi-provinsi di Indonesia.


Gambar 2.1 Grafik Jumlah Kasus Infeksi HIV di Indonesia tahun 2015
Virus HIV sangat mematikan bagi siapa saja yang terjangkit olehnya, karena virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh yang membuat imunitas seseorang menjadi sangat lemah. Virus HIV ini hanya dapat ditulari dengan cara apabila telah terkontaminasi dengan cairan tubuh (darah, air liur, cairan semen, ASI) seseorang yang telah mengidap virus tersebut. Dengan kata lain, selain dengan hal tersebut virus HIV tidak mungkin tertular.
Di Indonesia sendiri, kasus infeksi virus HIV dapat dikatakan memiliki angka yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran individu akan kesehatan bagi dirinya sendiri, lingkungan sosial yang selalu menuntut, serta peran pemerintah yang kurang tegas dalam menghadapi kasus ini khususnya pada daerah provinsi di Indonesia yang masih memiliki keterbatasan akses dalam masalah kesehatan.

2.3  Gambaran HIV/ AIDS di Pati
Sebanyak 90 penderita HIV/AIDS baru ditemukan di Kabupaten Pati sepanjang 2016. Meningkatnya orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di tahun 2016 menambah jumlah ODHA di Pati yang mencapai 1.019 orang dari 1996 hingga Oktober 2016. Dari jumlah itu, 105 orang di antaranya meninggal dunia. (Dinas Kesehatan Kabupaten Pati)
Jumlah temuan ODHA baru di Pati cukup signifikan. Namun, jumlah itu ternyata masih rendah dibandingkan sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Grobogan, Semarang dan lain sebagainya. 90 persen ODHA yang ditemukan di Pati merupakan warga asli dan 10 persen merupakan warga pendatang yang tinggal di Pati, seperti Kudus, Jepara, dan Rembang.

2.4  Faktor Penyebab dan Faktor Resiko HIV/ AIDS
2.4.1       Faktor Penyebab
Normalnya sel darah putih dan antibodi menyerang dan menghancurkan organism easing yang masuk ke dalam tubuh. Respon ini diatur oleh sel darah putih bernama limposit CD4. Limposit ini juga merupakan target utama HIV. Sekali masuk ke dalam tubuh, virus memasukkan material genetiknya ke dalam limposit dan melipatgandakan diri.
Ketika salinan virus baru keluar dari sel induk dan masuk ke dalam aliran darah, virus akan menyerang sel lain. Sebagai efeknya sel CD4 akan mati. Siklus ini terus berulang. Pada akhirnya menyebabkan kerusakan sistem imun yang berarti tubuh tidak akan mempu melawan infeksi bakteri dan virus lain.
2.4.2       Faktor Resiko
Faktor risiko terinfeksi AIDS antara lain:
1.          Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan
2.          Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan orang dengan HIV positif
3.          Memiliki penyakit menular seksual lain seperti syphilis, herpes, chlamydia, gonorrhea atau bacterial vaginosis.
4.          Bergantian dalam memakai jarum suntik
5.          Mendapatkan transfusi darah yang terinfeksi virus HIV
6.          Memiliki sedikit salinan gen CCL3L1 yang membantu melawan infeksi HIV
7.          Ibu yang memiliki HIV

2.5  Gejala HIV/ AIDS
Gejala HIV dan AIDS bervariasi tergantung dari fase infeksinya.
2.5.1        Infeksi Awal
Ketika infeksi HIV pertama, anda mungkin tidak akan mengalami tanda atau gejala apapun. Tetapi dalam beberapa minggu anda dapat mengalami:
1.           Demam
2.           Sakit kepala
3.           Radang tenggorokan
4.           Pembengkakan kelenjar limpa
5.           Ruam

2.5.2       Infeksi Selanjutnya
Anda mungkin tidak akan mengalami gejala apapun dalam waktu 8 sampai 9 tahun, atau bahkan lebih. Tapi seiring dengan virus yang melipatgandakan diri dan merusak sistem imun, anda mungkin akan mengalami infeksi ringan atau gejala kronis seperti:
1.            Pembengkakan node limpa – sering merupakan tanda awal infeksi HIV
2.            Diare
3.            Hilang berat badan
4.            Demam
5.            Batuk atau napas yang pendek
2.5.3        Infeksi Tahap Akhir
Dalam waktu sekitar 10 tahun atau lebih setelah infeksi pertama, masalah yang lebih serius dapat terjadi yang diistilahkan dengan AIDS dan dapat terjadi:
1.            Infeksi yang terjadi ketika sistem imun lemah, seperti pneumocystis carinii pneumonia (PCP)
2.            Kadar CD4 lymphocyte 200 atau lebih rendah – normalnya adalah antara 800 sampai 1.200
Seiring dengan perkembangan AIDS, sistem imun anda telah mengalami kerusakan parah. Infeksi akan mudah terjadi. Tanda dan gejalanya adalah:
1.             Berkeringat di malam hari
2.             Menggigil atau demam lebih dari 38 Celcius untuk beberapa minggu
3.             Batuk kering dan napas pendek
4.             Diare kronis
5.             Noda putih pada lidah atau mulut
6.             Sakit kepala
7.             Pandangan kabur
8.      Hilang berat badan
Anda juga dapat mengalami tanda dan gejala pada tahap lanjut infeksi virus HIV itu sendiri, seperti:
1.      Rasa lelah yang tidak hilang dan tidak terjelaskan
2.      Berkeringat pada malam hari
3.      Menggigil atau demam tinggi untuk beberapa minggu
4.      Pembengkakan node limpa lebih dari tiga bulan
5.      Diare kronis
6.      Sakit kepala yang tidak hilang
Jika anda terinfeksi virus HIV, anda juga lebih rentan mengalami kanker, khususnya kanker servik, lymphoma dan Kaposi’s sarcoma.


  

BAB III

METODE PENELITIAN



3.1  Tempat dan Waktu Penelitian
3.1.1        Tempat
UPT Puskesmas Cluwak
3.1.2        Waktu Penelitian
Tanggal     : 3 – 4 April 2017
Waktu                   : 10.00 WIB – 14.00 WIB

3.2   Tehnik Pengumpulan Data
3.2.1        Wawancara
Yaitu melakukan melalui komunikasi langsung dengan responden untuk memperoleh informasi tertentu.
Peneliti melakukan wawancara kepada Dokter Umum dan Bidan Koordinator Konseling Kesehatan Masyarakat.
3.2.2        Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia, dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik lain.
Dalam hal ini peneliti melakukan studi kepustakaan dengan menghimpun informasi yang didapat di UPT Puskesmas Cluwak berupa leaflet, brosur, karangan ilmiah serta ensklopedia, serta menghimpun informasi dari internet berkaitan dengan HIV/ AIDS.


3.3      Tehnik Pengolahan Data
3.3.1        Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing pada penelitian ini adalah mengarsip jawaban hasil wawancara yang telah dilakukan dan memilih informasi yang diperoleh dari studi kepustakaan baik melalui buku, leaflet, ensklopedia maupun internet serta mencocokkan dan mengoreksi informasi.
3.3.2        Cording
Cording merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting karena peneliti juga memperoleh informasi berupa data angka terkait dengan jumlah penderita dengan berbagai variabel.
3.3.3        Entri Data
Data entri adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan kedalam database penelitian sesuai dengan kategorinya sebelum dilakukan penyusunan laporan penelitian secara sistematika, sehingga memudahkan peneliti untuk menyusun laporan.
3.3.4        Tabulasi data
Yaitu kegiatan memasukkan data ke dalam tabel-tabel dan mengatur angka-angka yang diperoleh, sehingga dapat dihitung distribusi dan prosentasenya, serta dapat dianalisis dan dibahas dalam bab pembahasan.





BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


4.1  Faktor Penyebab Perempuan Lebih Rentan Terinfeksi HIV.
Perempuan lebih rentan terinfeksi HIV dibanding pria walaupun menurut data pada tahun 2015 lebih banyak pria yang terinfeksi HIV. Berikut adalah faktor yang menyebabkan perempuan lebih rentan dibanding pria.
4.1.1        Faktor Biologis
1.    Penipisan dinding vagina yang dapat membuat wanita  rentan terserang virus.
2.    Bentuk organ kelamin wanita yang memiliki permukaan (mukosa) alat kelamin yang lebih luas sehingga cairan sperma mudah terpapar ketika hubungan seksual
3.    Virus HIV lebih banyak hidup di cairan Sperma
4.    Terdapat banyak lipatan membuat permukaan menjadi luas dan dinding vagina sendiri memiliki lapisan tipis yang mudah terluka, memudahkan air mani bertahan lebih lama dalam rongga vagina bila terjadi infeksi, sehingga air mani yang terinveksi dapat segera menulari perempuan tersebut.
4.1.2         Faktor Ekonomi
1.     Ketidak setaraan ekonomi antara perempuan dan laki-laki sering kali memaksa perempuan dalam peran patuh dan tergantung pada laki-laki. Kerentaranan perempuan secara ekonomi seringkali terjadi dikarenakan perempuan tidak memiliki penghasilan sendiri, sehingga tergantung pada orang lain,dalam hal ini suami atau pasangan dalam menafkahi hidupnya.
2.     Wanita yang lemah dalam hal ekonomi tidak memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri
3.     Bargaining power mengakibatkan keengganan wanita meminta informasi kepada suaminya tentang status kesehatan pasangan seksualnya tersebut  dan tidak berani menegur bahkan bertanya terkait kehidupan atau aktivitas suaminya diluar rumah.
4.     Masalah ekonomi menjadikan sebagian perempuan tidak bisa memilih dengan siapa dia akan menikah: kapan,dengan siapa,dan bagaimana dia melakukan hubungan seksual.
5.     Faktor tergantung terhadap suami menyebabkan mereka tidak bisa menolak hubungan seksual meskipun dia mengetahui suaminya memiliki hubngan dengan sejumlah perempuan lain diluar pernikahannya.
6.     Banyak perempuan yang akhirnya harus menjadi PSK dimana ini sangat berpotensial   terinfeksi HIV, seperti di negara miskin atau kota-kota besar sebagian kaum perempuan tidak memiliki pilihan lain selain menukarkan tubuhnya dengan uang untuk tetap bertahan hidup.
7.     Kecenderungan perempuan untuk tidak mengalami gejala pada waktu menderita sebuah penyakit menular  seksual. (ini menjadi pintu bagi HIV, terutama jika telah  menyebabkan luka atau ulcer)
4.1.3         Faktor Pendidikan
1.      Kurangnya pengetahuan wanita mengenai perubahan tubuh khususnya yang berhubungan dengan organ reproduksinya
2.      Minimnya pengetahuan tersebut menyebabkan mereka tidak mampu merawat organ intinya dan suami akan lebih mudah berpaling mencari kepuasan sex dengan wanita lain.
3.      Tidak adanya informasi yang mereka ketahui terhadap bahaya HIV/AIDS,inilah salah satu faktor mereka enggan melakukan pemeriksaan meskipun ternyata telah melakukan perbuatan yang beresiko.
4.      Kurang meratanya akses informasi,konsultasi maupun bimbingan yang didapatkan oleh perempuan dan ibu-ibu rumah tangga.
5.      Akses pendidikan dan pelayanan kesehatan kurang sehingga perempuan tidak mengerti akan masalah kesehatan reproduksinya termasuk persoalan seputar HIV/AIDS.
6.      Sebagian dari mereka yang telah terinfeksi selalu menjadikan kondom sebagai solusi untuk mencegah penularan padahal menurut beberapa penelitian kegagalan kondom dalam pencegahan HIV/AIDS mencapai 33%,itu dikarenakan ukuran pori-pori kondom terkecil adalah  5 mikron sedangkan ukuran virus HIV/AIDS yakni sebesar 0,1 mikron, maka pori-pori kondom sangat mudah dilewati. Ini seperti kelereng yang melewati gorong-gorong.
4.1.4         Faktor Sosial Budaya
1.     Perempuan dikonstruksikan untuk bersikap penurut, pasif, sabar dan setia sedangkan laki-laki dominan, agresif dan mengambil inisiatif dalam hubungan seksual.
2.     Adanya persepsi dilingkungan masyarakat bahwa hal yang wajar jika seorang laki-laki memiliki lebih dari satu pasangan.
3.     Perempuan menjadi rentan karena dituntut untuk menjalankan peran sebagai pengasuh,perawat apabila suami,anak,atau keluarga edang sakit, sedangkan jika dirinya sendiri sakit seringkali terabaikan.
4.     Tradisi yang merugikan perempuan seperti dijodohkan,dipaksa menikah,dipaksa jadi PSK,tradisi turun ranjang di Sumatra Utara
5.     Stigma ganda,yaitu perempuan adalah makhluk kelas dua yang cenderung disalahkan atas apa yang terjadi terhadap dirinya sendiri.
6.     Pandangan terhadap wanita yang terinfeksi HIV/AIDS adalah wanita tidak baik prilakunya dan tidak bermoral,suatu keadaan yang memalukan dan koto, sehingga menyebabkan sebagian wanita malu untuk mengakses informasi dan segan untuk memeriksakan diri.
7.     Perempuan disosialisasikan sedemikian rupa untuk menomorduakan kebutuhan kesehatan sesudah anggota keluarga.

4.2      Penularan HIV/ AIDS
Virus HIV ini sangat mudah menular dan mematikan serta hidup dalam 4 jenis cairan tubuh manusia yaitu darah, sperma, cairan vagina dan air susu ibu (ASI). Virus ini tidak hidup di dalam cairan tubuh lainnya seperti air ludah (air liur), air mata maupun keringat sehingga penularannya hanya lewat empat cairan tubuh tersebut.
1.      Penularan HIV yang terjadi apabila terjadi kontak atau pertukaran cairan tubuh yaug mengandung virus melalui sebagai berikut:
2.      Hubungan seksual (homoseksual dan heteroseksual).
3.      Transfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar oloh HIV.
4.      Jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tindik, tato) yang tercemar oleh HIV.
5.      Penularan ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang dikandungnya. Penularan dapat terjadi selama kehamilan atau persalinan atau selama menyusui.

4.3      Pencegahan HIV/ AIDS
Hubungan seksual ini merupakan salah satu penyebab terjadinya  HIV/AIDS dimana seoarng telah terpapar oleh penyakit ini kemudian tertular jika ia melakukan hubungan seka dengan pasangannya.
Adapun konsep pencegahan penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual antara lain sebagai berikut:
1.      A = Abstinence = Puasa,yaitu tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.hubungan seksual hanya dilakukan melalui pernikahan yang sah.
2.      B = Be faithfu l= Setia dengan pasangan,yaitu jikapun telah menikah,mengadakan hubungan seksual dengan pasangannya saja.suami atau istri sendiri tidak mengadakan hubungan seksual di luar nikah
3.      C = Using condom = Menggunakan kondom,yaitu bagi orang tertentu yang mempunyai kebiasaan buruk berganti-ganti pasangan maka di anjurkan untuk menggunakan kondom agar tidak menulari orang lain.



BAB V

PENUTUP



5.1  Simpulan
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Faktor yang mempengaruhi HIV/ AIDS antara lain: biologis, ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya.
Virus HIV ini sangat mudah menular dan mematikan serta hidup dalam 4 jenis cairan tubuh manusia yaitu darah, sperma, cairan vagina dan air susu ibu (ASI). Virus ini tidak hidup di dalam cairan tubuh lainnya seperti air ludah (air liur), air mata maupun keringat sehingga penularannya hanya lewat empat cairan tubuh tersebut.
Sampai sekarang belum ditemukan cara pengobatan HIV/AIDS yang tuntas.Saat ini yang ada hanyalah menolong penderita untuk mempertahankan tingkat kesehatan tubuhnya. Namun telah ditemukan sebuah obat yang dapat mengobati perkembangbiakan virus HIV/AIDS sehingga jumlahnya tidak betambah di dalam tubuh,obat tersebut dinamakan obat antiretroviral (ARV).

5.2  Saran
Agar kita semua terhindar dari AIDS, maka kita harus berhati-hati memilih pasangan hidup, jangan sampai kita menikah dengan pasangan yang terinfeksi HIV / AIDS, karena selain dapat menular ke diri kita sendiri juga dapat menular ke janin dalam kandungan kita. Kita juga harus berhati-hati dalam pemakaian jarum suntik secara bergantian dan tranfusi darah dengan darah yang sudah terpapar HIV.


DAFTAR PUSTAKA

http://goo.gl/tl9h3H. Diakses tanggal 07/04/2017
Joewana, Satya. Pencegahan dan penanggulangan penyalagunaan Narkoba. 2016. Jakarta : Balai pustaka
Muahammad Zainal Abidin. 2010. “ HIV AIDS dan Cara Pencegahannya”. Dalam http://www.masbied.com/2010/02/20makalah-aids/. 20 Februari 2010.
tanggal 06/04/2017